Semestinya Setiap Kita Adalah Santri
ADA orang yang tinggal bertahun-tahun di pesantren, tetapi belum tentu seluruh hidupnya mencerminkan nilai-nilai kesantrian. Sebaliknya, ada orang yang tidak pernah mondok, tetapi akhlak, ibadah, dan kehidupannya begitu dekat dengan nilai-nilai yang diajarkan pesantren. Sebab, santri sejatinya bukan sekadar mereka yang pernah tinggal di pesantren, melainkan siapa pun yang bersedia belajar, memperbaiki diri, dan mengabdikan hidupnya untuk mencari ridho Allah SWT.
Tentu, kita perlu menghormati makna khusus santri sebagai orang yang menuntut ilmu dan menjalani pendidikan di pesantren. Namun, semangat kesantrian sesungguhnya merupakan nilai luhur yang semestinya hidup dalam diri setiap muslim.
Mengapa?
PERTAMA, SEMESTINYA SETIAP KITA ADALAH SANTRI DALAM ILMU.
Tidak ada seorang pun yang boleh merasa sudah cukup berilmu, apalagi merasa tidak perlu lagi belajar agama. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak yang belum diketahuinya. Allah berfirman:
"... Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'" (QS. Thaha: 114)
Siapa pun kita—dosen, pejabat, pengusaha, orang tua, mahasiswa, atau pekerja—semestinya tetap menjadi pembelajar di hadapan Allah.
Jangan sampai gelar akademik bertambah, tetapi kerendahan hati berkurang. Jangan sampai pengalaman hidup semakin panjang, tetapi kesediaan menerima nasihat justru menghilang.
KEDUA, SEMESTINYA SETIAP KITA ADALAH SANTRI DALAM AKHLAK.
Ilmu agama bukan sekadar untuk membuat kita pandai berbicara tentang halal dan haram, tetapi untuk membuat kita semakin takut menyakiti orang lain.
Apa gunanya fasih berbicara tentang kesabaran jika kita mudah membentak pasangan? Apa gunanya rajin menghadiri majelis ilmu jika kita masih gemar merendahkan orang lain? Apa gunanya menghafal banyak dalil jika kejujuran dan amanah belum menjadi kebiasaan? Bukankah Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; dinilai sahih oleh sejumlah ulama)
Semestinya, semakin lama kita belajar Islam, semakin nyaman orang lain berada di dekat kita. Lisan kita lebih terjaga, janji kita lebih dapat dipercaya, dan kehadiran kita lebih banyak membawa manfaat.
KETIGA, SEMESTINYA SETIAP KITA ADALAH SANTRI DALAM IBADAH.
Jangan sampai kita mengetahui keutamaan salat, tetapi terus menunda-nundanya. Mengetahui pentingnya membaca Al-Qur'an, tetapi membiarkannya berdebu di rak. Memahami kewajiban berbakti kepada orang tua, tetapi justru melukai hati mezeka. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."_
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Artinya, kehidupan kita bukan sekadar untuk bekerja, mengumpulkan harta, mengejar jabatan, membesarkan anak, lalu menjadi tua. Semua itu bisa menjadi bagian dari ibadah jika dijalani sesuai petunjuk Allah.
Semestinya, kita membawa semangat santri ke kantor, kampus, pasar, rumah, dan seluruh ruang kehidupan: bekerja dengan jujur, belajar dengan sungguh-sungguh, mendidik dengan kasih sayang, serta beribadah dengan penuh kesadaran.
KEEMPAT, SEMESTINYA SETIAP KITA ADALAH SANTRI YANG TIDAK PERNAH BERHENTI BERTAUBAT.
Ada satu hal yang membedakan orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri dengan orang yang hanya ingin terlihat baik, yakni kesediaannya mengakui kesalahan.
Orang yang berjiwa santri tidak sibuk membangun citra bahwa dirinya paling saleh. Ia justru sibuk memperbaiki kekurangan dirinya. Ketika salah, ia meminta maaf. Ketika lalai, ia kembali. Ketika dinasihati, ia berusaha mendengarkan. Ketika menyadari dosa, ia tidak berputus asa dari rahmat Allah.
"... Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya ..." (QS. Az-Zumar: 53)
KELIMA, SEMESTINYA SETIAP KITA ADALAH SANTRI YANG BERKONTRIBUSI
Ilmu yang baik tidak berhenti pada diri sendiri. Ia mengalir menjadi manfaat bagi orang lain. Orang tua mendidik anak dengan nilai-nilai Islam. Guru membimbing murid dengan keteladanan. Pejabat menjalankan amanah dengan keadilan. Pengusaha mencari rezeki dengan cara yang halal. Mahasiswa menggunakan ilmunya untuk memecahkan persoalan masyarakat. Masing-masing memiliki ladang kontribusi yang berbeda.
Maka, jangan membatasi pengabdian hanya pada mimbar, pesantren, atau masjid. Di mana pun kita berada, selalu ada kesempatan untuk menebarkan kebaikan.
Yang paling penting JANGAN HANYA MENJADI ALUMNI KEBAIKAN.
Sebab ada orang yang pernah belajar agama, tetapi berhenti memperbaiki dirinya. Ada yang pernah rajin mengaji, tetapi perlahan meninggalkan kebiasaan baiknya. Ada yang dahulu begitu mudah menerima nasihat, tetapi kini merasa terlalu tinggi untuk dinasihati.
Jangan sampai kita hanya menjadi alumni dari kebaikan masa lalu. Semestinya, sampai akhir hayat, kita tetap menjadi santri di hadapan Allah: terus belajar, terus beribadah, terus memperbaiki akhlak, terus bertaubat, dan terus berkontribusi.
Tidak penting apakah kita tinggal di pesantren atau tidak. Tidak penting apakah kita memiliki gelar tinggi atau tidak. Yang penting, jangan pernah kehilangan kerendahan hati untuk belajar dan keberanian untuk memperbaiki diri.
Sebab, perjalanan menuju Allah bukan perjalanan yang selesai ketika kita lulus dari pesantren, meraih gelar akademik, mendapatkan jabatan, atau mencapai usia tertentu. Perjalanan itu baru berakhir ketika kehidupan kita di dunia berakhir.
Maka, selama Allah masih memberi kita waktu, tetaplah menjadi santri: santri yang haus ilmu, lembut akhlaknya, taat ibadahnya, lapang hatinya, dan luas manfaatnya bagi sesama.
*dalam rangka turut memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026
By. Satria Hadi Lubis
